Opini: Artikel khusus untuk Bang Yudha terkait wacana perda boncenger ngangkang di Aceh


OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Wow (tanpa koprol)
Sangat menggebu-gebu ikam hehehe :D

Karena bang Yudha meminta pendapat blogger ecek2 seperti ulun. maka ulun berikan pendapat ulun. Sebelumnya Mohon maaf komen agak panjang mas. Lebih mirip posting ;) jadi sebaiknya diposting saja hehehe. Oke silakan ikam lihat di … sini

Menanggapi posting bang Yudha di salah satu posting blognya tentang aturan boncenger tidak boleh duduk “ngangkang” di Aceh.
Untuk pihak lain yang tersebut di artikel ini saya mohon maaf secara terbuka umum dan khusus kepada Anda jika artikel ini membuat kerugian bagi Anda atau menjadi perbuatan tidak menyenangkan bagi Anda.

nenek selingkuh tak bacok ndasmu pake arit clurit kphmph

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa saya bukan tipe laki-laki posessive (dulu pernah waktu pacaran, setelah jadi suami istri sudah tidak posessive lagi). Saya lebih membebaskan istri saya untuk berbuat apapun namun bertanggung jawab dan tidak menutupi hal sekecil apa pun dari saya. Kebetulan istri saya juga perempuan yang bisa menjaga diri dan menempatkan dirinya dengan baik, baik sebagai seorang guru ataupun sebagai istri bagi saya dan ibu bagi anak saya. Kami tetap menjalankan kehidupan layaknya suami-istri lain dan alhamdulillah masih memegang teguh ajaran Islam. Islam kami bukan Islam yang over fanatik atau mengikuti salah satu organisasi besar yang ada di tanah air ini. Islam masih dangkal, tapi alhamdulilah dan insya Allah kami tahu mana yang boleh dan yang tidak. Karena berkeluarga (menikah) adalah Ibadah, dan tidak boleh ada larangan untuk beribadah. Tujuan kita hidup adalah akhirat yaitu surga Allah. Cara mencapainya memang beragam sesuai ajaran agama. Kita berpegang teguh pada ajaran agama Islam, yaitu kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Sah-sah saja mas Yudha berpendapat demikian, namanya juga berpendapat, karena pendapat orang lebih banyak subyektif-nya dan subyektivitas itulah yang menghasilkan obyektivitas dari sebuah diskusi.

rossi bonceng ngangkang pak RT pake  sepeda kphmph.wordpress.com

Pak RT dibonceng Rossi ;)

Bagi boncenger sepeda motor duduk ngangkang atau menyamping adalah hak dari boncenger tersebut. Ini bukan sepeda goes, tetapi sepeda bermotor dan menggunakan mesin bertenaga kuda di atas 5 HP. Kalau jaman baheula atau jaman jahiliyah dulu (jaman kebodohan) kita memang menunggangi kuda, keledai, sapi, kernbau, unta, atau binatang sejenisnya yang jelas-jelas bertenaga setara satu kuda atau 1 HP.

gendut-indonesia-aceh-elections

Bagi rider motor seperti kita, boncenger duduk “ngangkang” atau menyamping kan tergantung apa yg kita bawa dan kostum apa yang dipakai boncenger serta ukuran atau berat badan boncenger. Bayangkan jika boncenger duduk menyamping tetapi berat boncenger di atas 70kg (biasanya perempuan yang sudah memiliki satu anak atau lebih berat badannya akan di atas 65kg).

Ketika kita ingin melakukan perjalanan jauh naik motor tentu akan lebih safety (alasan kemanan nih) jika boncenger duduk ngangkang, karena duduk ngangkang bisa diajak di medan apa pun dan dalam kondisi apa pun serta cuaca apa pun, sedangkan duduk menyamping hanya safety di kecepatan dalam kota (max 50kph) dan medan yang rata tanpa banyak jalan bergelombang ataupun rusak.

rosi bonceng nenek kphmph

Jika di kota besar duduk nyamping akan lebih riskan karena kepadatan kendaraan dan minimnya akses jalan yang bisa dilalui dan akan lebih berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan. Jalanan macet dengan boncenger duduk menyamping tentu tidak akan stabil karena kita dalam kecepatan stop and go, bagi rider yang membawa boncenger menyamping apa lagi boncenger overweight, sekali memijakkan kaki di aspal ketika akan kembali melaju pasti setang jadi berat dan kebanyakan rider motornya oleng ke kiri atau ke kanan (ini fakta dan saya rasa tidak hanya terjadi di daerah saya) dan membahayakan bukan hanya pengendara dan boncenger tersebut tapi pengguna jalan lain, lebih parahnya lagi akan terjadi kecelakaan beruntun. Bagi yang ingin membuktikan silakan bawa boncenger dengan duduk menyamping di kepadatan kota besar misalnya Jakarta.

jokowi acung

Memang aturan ini bukan untuk Jakarta tapi hanya di Aceh saja, tetapi kita harus berpikir ke masa depan dimana Aceh akan tumbuh dan berkembang pesat seiring dengan berkembangnya kendaraan terutama roda dua yang kemungkinan besar tidak akan didukung oleh infrastruktur seperti jalan yang lebar dan halus dan cepat atau lambat Aceh akan menjadi seperti Jakarta pada saat ini.

macet jakarta

pulogadung jakarta macet

Perlu ditegaskan di sini bahwa aturan atau undang-undang dibuat untuk melindungi masyarakat/rakyat dari ketidak-aman-an dan ketidak-nyaman-an sehingga tercipta ketertiban umum. Kalau undang-undang ini (akan) gagal menciptakan keamanan di masyarakat tentu lebih bijak jika undang-undang atau peraturan daerah ini tidak dibuat, dan sebaiknya dialihkan atau diganti oleh peraturan yang lebih bisa menciptakan keamanan dan ketertiban umum juga bisa melindungi masyarakat, misalnya dirubah saja menjadi:

  • larangan bagi pembonceng motor berjenis kelamin perempuan duduk “ngangkang” tanpa mengenakan jaket longgar sehingga menyamarkann bentuk tubuh wanita pembonceng.
  • larangan bagi pembonceng motor berjenis kelamin perempuan duduk “ngangkang” mengenakan warna baju atau celana berwarna pink sehingga terlihat seksi.
  • larangan bagi pembonceng motor berjenis kelamin perempuan duduk “ngangkang” mengenakan celana panjang ketat.
  • larangan bagi pembonceng motor berjenis kelamin perempuan duduk “ngangkang” mengenakan sweater sehingga terlihat seksi.
  • larangan bagi pembonceng motor berjenis kelamin perempuan duduk “ngangkang” bagi yang berusia dari 14 tahun (SMP) hingga 30 tahun yang memiliki berat badan di bawah 65kg (karena biasanya seksi sedangkan yang gambot kadang kurang seksi di mata yang lain. tidak tau juga selera pembuat produk hukum di Aceh).
  • larangan bagi pria yang membonceng motor yang dikendarai perempuan.
  • larangan bagi pria memboncengkan perempuan duduk “ngangkang” tapi bukan muhrim.
  • larangan bagi tukang ojek pria memboncengkan perempuan duduk “ngangkang”.
  • atau aturan lain yang lebih sesuai syariat Islam namun tidak mengabaikan atau bahkan menghilangkan keselamatan pengendara, pembonceng, atau pengguna jalan lain.

Sekali lagi artikel ini dibuat untuk menanggapi posting-nya bang Yudha. Piss ;) Y
Untuk pihak lain yang tersebut di atas saya mohon maaf secara terbuka umum dan khusus kepada Anda jika artikel ini membuat kerugian bagi Anda atau menjadi perbuatan tidak menyenangkan bagi Anda.
Artikel ini sebagai wacana wawasan saja semoga bermanfaat.

Baca di Koran: Ini alasan marwah, dan adat istiadat. (semua daerah di Indonesia punya adat istiadat tersendiri dan banyak hal tabu.

A man evacuates his family members in a motorcycle in Banda Aceh after a strong earthquake struck Indonesia province

lihat pula alasan dilarang ngangkang karena untuk menjaga warwah dan mengembalikan adat istiadat Aceh.

^ sejak jaman kerajaan dulu di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan seluruh Indonesia juga gak ada motor atau mobil, bahkan pesawat terbang. Orang jadi RIA dan arogan juga pemarah sejak ada sepeda motor dan kendaraan bermotor lainnya. Melanggar syariat Islam-kah??? So haruskah kendaraan bermotor ditiadakan??? (wedew malah ngompor2i nih ;) )

Siapa pun yang baca boleh komen juga :cool:

<!– brought to you by kphmph.wordpress.com –>


Related Post :

About Marga

You don't wanna know! About.me/margay About.me/aku
This entry was posted in Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Opini: Artikel khusus untuk Bang Yudha terkait wacana perda boncenger ngangkang di Aceh

  1. vixy182 says:

    Ulun ….. :-) …., bisa bhasa kalsel ya bro

  2. Tri_Aja_Gunung_Kidul says:

    apapun aturannya smoga saja dpt dipertanggung jawabkan kepada Tuhan YME ..4JJI SWT nantinya

  3. Dion oke says:

    Aturan larangn dudukk ngangkang untuk wanita katanya g’ ada hubungan dengan agama.
    Hmmmmmmmm….
    Ya emang g’ ada kaita ini kan perda untuk membuat masyrakat nya lebih baik dan beradab, terutama untuk menjaga martabat wanita. lagian larangan korupsi, Narkoba, pejabat jalan keluar negri, sistem penjara, merokok bagi wanita gak di jelaskan dalam agama kan. ini kualitas kecerdasan pemimpin aja yang ingin menjaga dan mengayomi masyrakat dibawah kepemimpinannya agar menjadi lebih baik dan terhormat. Klo ada tokoh yang menilai lain berarti kecerdasan dan kualitas nya bisa di pertanyakan dan di ragukan, apakah selama ini ada upaya untuk menjaga dan mebembudayakan aturan yang meningkatkan kehormatan, martabat dan perlindungan terhadap masyrakat yang dipimpinnya. Introspeksi aja deh sebelum komentar kan lebih baik.
    Dan juga kalo ada daerah lain yang g’ setuju y terserah, buat aj peratuan aga wnita di harapkan duduk mengangkang saat mengendarai Roda Dua agar lebih aman.. sah-sah aja, dan g’ usah komplain masyrakat lain, wong yang masyrakatnya aja g’ komplain kok. trus klo mo nganggkang silahkan aj tinggal di daerah yang ada perda di haruskan mengangkang bagi wanita, iy kan. gitu aja kok repot!

    • joko says:

      lha..memangmya klo berpakaian sopan trs mboncengnya ngangkang (tdk menyamping ) itu lantas dianggap ga sopan gitu ??
      hukum “boleh” dlm islam itu sendiri karena lbh byk manfaatnya dibanding mudhorotnya .
      dalam kaidah fiqih disebut ” ad dhorurotu tubihul mahdhuroot ” ..(dlm kondisi darurat ,sesuatu yg dilarang bisa menjadi boleh ).
      sekarang lebih aman mana ,mbonceng ngangkang atau nyamping ??

  4. c33b says:

    apakah wanita yg bonceng ngangkang tidak bermartabat?sungguh dangkal penilaian anda.apa sih jeleknya bonceng ngangkang?bentuk tubuh kelihatan?dada bisa nempel pemboncengnya?mencegah pelukan mesra?atau apa?
    melihat hal ini saya malah kasihan kepada wanita yg sering dikebiri hak-haknya.

  5. yudha depp says:

    Sip, enggak masalah kalau kita punya pendapat
    berbeda, entar akan saya buat jawabannya.
    tapi sebelum itu ijinkan istri bapak untuk
    membaca artikel dibawah. saya ingin tau
    tanggapannya.

    http://yudhadepp.blogspot.com/2013/01/fakta-ketika-wanita-duduk-menyamping.html?m=1

  6. emasyayang says:

    hhmmm…nyimak aja ah..

  7. An_Syahri says:

    Klo menurut aku mas apa yang diungkapkan mas Yudha itu benar begitu pula yang ditulis di artikel mas Marga ini… cuman masalah ini kita harus bisa memandangnya dari berbagai sudut pandang dengan mempertimbangkan plus minusnya…. yang jelas kita positive thinking aja dan ga usah terlalu berdebat untuk hal satu ini.. baiknya jika tidak setuju dengan aturan tsb kita langsung aja kirim usulan kepada sang pembuat kebijakan, dengan harapan bisa menjadi pertimbangan mereka untuk bisa merubah aturan tsb…. maaf ya komennya kepanjangan…

  8. kalo orang sana adatnya memang begitu ya silahkan KALAU MAU mengikuti, tapi ya ga usah diwajibkan dengan perda yg memiliki hukuman. kasihan orang luar yang ga terbiasa dengan adat setempat.

  9. bebas berpendapat dan beropini tp kok jadi berbalas pantun eh postingan..
    …….
    ikam aseli mana wal ? ulun jadi menebak. tambun bungai kah ?

  10. Aa Ikhwan says:

    kl ane bonceng istri kadang posisi duduk ngangkang n rapi dan rapet :mrgreen: , kadang nyamping rapi juga :D
    lebih seringnya duduk ngangkang rapi dan rapet :D

  11. vario125 says:

    maaf sebelumnya yak. ada sedikit ‘kesalahan’ dengan tulisan bro di atas dimana membandingkan dengan daerah Jakarta. apakah bro yakin jika Aceh nantinya akan mengalami kemacetan seperti Jakarta..?? duduk menyamping untuk daerah Jakarta (sesuai gambar di atas), sangat tidak tepat. nah jika kondisinya tidak seperti Jakarta, apakah duduk menyamping sudah dianggap tepat..?? tulisan bro diatas, sekilas yang saya tangkap, agak ambigu….

    • marga says:

      makasih mas Wildan (klo gak salah) atas masukannya.

      Maaf agak sedikit melebar topiknya. Biasanya peraturan atau perda/UU akan sulit “dicabut” atau dihapus jika telah berlangsung/berjalan bertahun-tahun lamanya. ambil contoh UU hukuman mati/gantung, memang pantas untuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan koruptor, tetapi dari sisi hak asasi manusia tentu akan melanggar hak hidup seseorang, dari sisi agama juga tidak dibenarkan membunuh orang atau mencabut nyawa seseorang karena yang berhak adalah Tuhan. Contoh lain adalah pendirian bangunan di Jakarta, andaikan sejak Batavia atau Jakarta dijadikan ibukota negara ada peraturan untuk tidak mendirikan bangunan 50 meter dari tengah jalan (marka jalan) maka akan lebih mudah untuk melakukan pelebaran jalan dan tidak akan terjadi kemacetan seperti sekarang ini yang akan sangat sulit untuk dipecahkan, bahkan akan menghabiskan uang rakyat untuk pembebasan jalan dan pembangunan infrastrukturnya.

      Berkaca dari hal ini, mungkin memang sebaiknya UU dikaji lebih mendalam dan memikirkan ke masa depan. Seperti di Aceh, anggap saja Aceh sekarang adalah Jakarta (sama-sama ibukota provinsi) di masa lalu yaitu masa pra-kemerdekaan. Memang untuk sekarang (mungkin) masih relevan untuk diterapkan aturan tersebut di Aceh. Tapi bagaimana 10-20 tahun lagi? dengan alasan keamanan berkendara, apakah mungkin Aceh akan menarik peraturan tersebut 10-20 tahun lagi ketika Aceh sudah berkembang menjadi kota metropolitan? (mungkin pembuat UU di Aceh yang bisa menjawabnya).

      Kembali ke tahun 1990-an di mana sepeda motor masih merupakan barang mewah, dan di tahun 2000-an hingga sekarang 2010-an (dalam kurun waktu +/- 20 tahun, sepeda motor sudah menjadi kebutuhan dan “berkembang biak” layaknya jamur di musim penghujan. Siapa yang salah, apakah produsen sepeda motor, konsumen sepeda motor, infrastruktur, atau apa? Beranikah Anda memboncengkan istri/pacar Anda di kepadatan Jakarta yang macet dengan cara menyamping??? Kalau berani berarti Anda adalah rider yang sudah berpengalaman. Kalau tidak berani berarti Anda adalah rider yang masih memikirkan safety riding.

      Sekian dan terima kasih. Semoga makin jelas.

      Footnote:
      * Maaf tidak bermaksud “menyerang” Anda ;) . Keep Peace and Brotherhood.
      * Anda = bukan vario125, tapi pembaca ;) komen ini.

      • vario125 says:

        maaf, gini maksud saya berdasarkan tulisan di atas. bro kan menentang duduk menyamping karena kurang safety dan kurang safety yang bro tuliskan di atas disertakan juga contoh seperti jakarta. yang saya tangkap, alasan kurang safety nya duduk menyamping di jakarta adalah karena macetnya jalan. artinya dalam kaitan dengan duduk menyamping, jika jalan macet maka tidak safety. maka jika jalan tidak macet maka safety. logika saja sih hehehee. saya memahami maksud tulisan bro di atas, namun sepertinya contoh yang bro berikan tidak mendukung tulisan bro sendiri. imho

        memang bisa jadi Aceh akan menjadi seperti Jakarta. namun coba tanya siapapun pimpinan (walikota, gubernur, de el el) di negeri ini, siapa sih yang mau daerahnya ke depan macet seperti Jakarta..?? saya yakin gak ada yang mau. maka seharusnya setiap pemimpin daerah sudah memikirkan suatu cara agar tidak terjadi kemacetan di daerahnya seperti Jakarta di masa depan. dengan ini, sudah bisa ‘membantah’ gambaran tulisan bro tentang Aceh di masa depan (dikaitkan dengan Jakarta). bahkan kemampuan Aceh agar tidak menjadi seperti Jakarta, jauh lebih besar di banding bbrp wilayah di Indonesia ini karena mereka memiliki kemampuan ‘mutlak’ mengatur wilayah mereka sendiri. imho

        setelah melihat isi himbauan terkait duduk menyamping tersebut, sepertinya yang ingin ‘dipertahankan’ oleh pemerintah Aceh adalah ingin menjaga kesopanan wanita seperti bbrp tahun sebelumnya. seperti kita ketahui, budaya di negeri ini banyak yang tergerus akibat budaya luar. jika ini yang dimaksud, maka bisa jadi adalah pemerintah Aceh ingin menjadi filter utama terhadap pengaruh budaya luar. imho

        jika alasan safety masih menjadi ganjalan, maka bisa saja Aceh meminta ATPM untuk membuat motor agar sesuai dengan himbauan/perda yang mengatur tentang duduk menyamping tersebut. sama seperti yang terjadi di India atau bahkan roda 2 dihapus dan diganti dengan roda 3. hal ini bisa saja terjadi karena Aceh adalah daerah istimewa.. jadi bukan kesopanan yang ‘dikorbankan’ melainkan alat nya yang harus mengikuti ‘kesopanan’.

        keep peace and brotherhood juga bro…

  12. joko says:

    untuk hal2 yg anda sebut diatas tentu sudah ada hukum dlm islam sendiri ,,narkoba = minuman keras. ,korupsi = mencuri ..dll.
    tp dlm hal boncenger ngangkang atau nyamping ini tentu harus dilihat faktor keselamatan 2′,2 nya ,,yg bawa motor atau boncengernya .

Komentar bebas : panjang, pendek, berkali-kali, terserah, ekspresikan dirimu :) You may use HTML tags and attributes.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s